There’s where a places of the heir to a metaphysical supply store must come to terms with the existence of modern witches.
-
JENDELA dengan gorden putih berenda itu tertiup angin segar embun esok hari, bohlam jingga kamarnya telah padam saat itu. Haya sorot kecil dari lampu jalanan nampaknya remang-remang. Dia masih mencium aroma musim gugur, tapi beberapa waktu lalu aroma itu diselimuti dengan wangi herbal yang maskulin muncul dari sage, juniper berries, dan geranium. Itu membuatnya merasakan kantuk semakin dalam, dia tidak ingin bangun dan teringat kejadian kemarin.
Julian selalu meninggalkan kesan hangat dan elegan dari amberwood, tonka bean, atau cedar, dan vetiver, maupun olibanum. Tangan yang sesekali mengusap ubun kepalanya pada akhirnya membuat Amani membuka kelopak matanya. Dia menatap pria bersurai afro itu dengan lelah, sedari awal Julian ingin Amani yang membicarakan seluruh bebannya dengan tuntas.
Ada percikan kecil ketika rasa yang lama telah sirna hidup kembali. Sebagai sulut api nyala dan membakar perasaannya seperti debu. Dia senang melihat kekasih hatinya mulai terbuka dan tahu bagaimana tersenyum atau merasakan otot wajahnya tidak sekaku dulu. Namun kenangan pada masa itu membuat Kim menyadari jika putrinya mungkin membutuhkan waktunya sendiri. Tidak bagi Julian, pria itu bahkan akan membobol pintu kamarnya jika gadisnya seharian penuh tak menyentuh sarapannya.
Dia tak harus memikirkan bagaimana tali mantra itu berhasil di ambil Arabella. Julian hanya akan tinggal di kamarnya dan menemaninya dengan sebuah buku kuno dipadu secangkir kopi panasnya. Namun aroma kopi itu tidak tercium, gadis tersebut memeluk pinggang Julian dan menyembunyikan wajahnya pada perut lelaki itu.
Membuat pria tersebut tertawa, dia tidak bisa seperti ini. Julian meraih tubuhnya lantas membawanya kembali pada ranjang, dia berinisiatif untuk meletakkan tubuhnya satu kasur dengannya. Sembari mendekap Amani, mengusap punggung gadis tersebut dan sesekali mengecup ubun kepalanya. Aroma lavender masih tercium wangi di surai gadisnya. Surai biru keabuannya yang mulai pudar tetap saja terlihat indah.
Mungkin ini adalah pengalaman pertama Julian seranjang dengan kekasihnya tanpa melakukan seks, tanpa merasakan gairah yang selama ini terus dia tahan agar tidak mencium Amani dan membuatnya kehabisan napas. Ini adalah titik dimana Julian merasa tenang. Seperti air dalam danau. Lalu dia mendengarkan dengkuran kecil Amani, kedengaran menggemaskan walau wajahnya yang pucat itu seperti kekurangan tidur belakangan ini, dan Julian tidak bisa membiarkan momentum manis ini sirna.
Kim memiliki rencana pergi bersama Carlo ke New Orleans, dia memutuskan menambahkan pesanan dalam tambahan stok di toko mereka. Tentang putrinya yang sedang mengalami depresi tertunda, Amani tidak akan melepaskan tugasnya walau harus menjaga toko dalam kondisi penuh luka sekalipun. Pernah waktu dimana gadis tersebut menghancurkan altar rekan penyihir Kim dan perkelahiannya sangat besar sehingga dia membawa pulang putrinya dengan luka gores. Itu adalah awal saat mereka tinggal di Salem, saat Christian Day dan Brian Cain memiliki surat wasiatnya untuk Kim.
“Ah, aku lupa." gadis itu tiba-tiba bangun, melepas dekapannya dan mengusap wajahnya dengan kasar sebelum berdiri dan berlari menuju toilet. Dia meninggalkan Julian dengan keheranan.
“Kau belum bercerita!" protes Julian, dan gadis itu keluar dengan linen rapi. Hanya kurang dari lima menit gadis itu membersihkan diri, “Tentang Arabella?" lanjut kekasihnya.
“Dia, aku lupa. Sebenarnya aku hanya ingat dia penulis dan kami bersitegang." gadis itu mengernyit, “Tidak, tidak. Aku waktu itu hanya melakukan hobiku dan menulis di platform kepenulisan, nama penanya melejit. Dia bilang aku seekor musang? Karena aku punya pembaca bohongan dan mengirim karyaku dengan percaya diri ke komunitas.” dia mengingat itu semata. Amani melihat jam dinding yang masih menyisakan beberapa menit.
"Kau melakukannya?” Julian juga merasa penasaran.
"Katanya iya.” Amani tanpa sadar bicara acak, dia berniat keluar dan meninggalkan Julian. Gadis itu terlihat sibuk, tapi dia menyadari Julian tetap seperti anak itik.
"Kim bilang kau sibuk ke kuil,” sebenarnya waktu sekolah menengah adalah waktunya sibuk. Ayahnya tidak terlalu prima waktu itu, dia menjalankan kebiasaan ayahnya dan pergi ke kuil lebih sering dibanding menghabiskan waktunya ke web.
Dia melihat ibunya yang sudah siap dan membawa perlengkapan di ranselnya bersama Carlo yang memarkirkan Nissan Skyline R34 terkasihnya di depan toko. Itu terlihat hebat, dan Carlo hampir setiap hari mengusapnya dengan napasnya. Gadis itu tersenyum, membuat ibunya mengernyit dan mendekapnya ke dalam pelukannya. Ini adalah kemajuan besar setelah semalam dia terlihat mudah emosi.
"Jaga toko dengan Julian, ibu pergi sebentar.” kedengaran manis, "Lalu, ibu suka senyumanmu. Ayahmu memang semanis dirimu.” itu membuat Amani tersenyum sangat lebar hingga garis matanya terlihat semakin menipis.
"Hati-hati,” Julian bersuara, setelah Kim mengangguk.
Amani berbalik, pelanggan tidak terlihat banyak. Mungkin hanya dua orang yang baru datang, "Kau tidak mungkin melakukan itu?” Julian masih berusaha mencari celah agar Amani membicarakan semuanya.
"Ju, sebentar lagi Keshi akan datang. Ibu bilang lelaki itu membuat janji temu dengan Euni. Aku akan menyiapkan ruang rapat dan bisa kau jaga mesin kasirku?" belakangan ini Julian mendengar Amani berbicara lebih banyak.
Dia menyukainya dan suara nyaring itu terdengar nyaman. Arabella mematung di dekat mesin kasir, dia menatap Amani yang keluar dari meja dan mereka sempat bertukar pandang. Tapi Keshi adalah hal mengganggu baginya, dia tidak masalah walau Amani adalah pembunuh sekalipun tapi dia ingin siapapun yang mendekati kekasihnya hancur. Termasuk Keshi yang telah membuat lonceng pintu masuk itu terdengar nyaring. Dia melihat iris coklat gelapnya.
Bahkan mengalihkan pembicaraan hanya karena sibuk, Julian ingin mengunci gadis tersebut kedalam ruang bawah tanah dan membuatnya seharian bersamanya agar perasaannya lebih baik. Dia tidak berniat melihat Amani harus bersikap baik didepan umum ataupun Keshi yang terlihat mengganggu.
-
Saat Hexing and Cursing, Stick Incense berada di meja kasir, pria itu mendongak. Menatap wanita dengan kacamata hitam yang sesekali mendekap tubuhnya, dia hanya sedang menipu diri sendiri. Bahkan jika itu kejadian yang dekat, sifat wanita tersebut adalah hal asing. Sebentar lagi musim dingin, Desember akan tiba pada tanggal empat, dan wanita itu terlihat menggunakan mantel bulunya. Julian juga harus terbiasa, dia berusaha berpikiran positif tapi belakangan ini pikirannya kacau sekali.
Dengan sebuah alat bantu dalam ritual sihir yang bertujuan untuk memberikan keadilan atau menghukum pelaku kejahatan. Itu adalah main hakim sendiri dan konyol, dia tahu mereka kumpulan orang awam yang hanya coba-coba dibandingkan Keshi yang sudi mendalami praktisi sihir. Ini membuat Julian berhenti, menatap Arabella yang mulai merasakan gelisah.
“Dengar, apa kau sangat membenci dia?" pria itu mengeluh.
Arabella terkekeh, dia melepas kacamata hitamnya. Dia sangat membenci Amani yang selalu terlihat baik-baik saja, wanita tersebut pikir tidak akan bertemu dengan rekan daring secara langsung di Salem. Perubahannya kontras, dan gambaran Amani waktu dia menorehkan di balik karyanya sangat berbanding terbalik saat dia melihat tatapan sayu dan mengerikan sekarang, seperti Arabella dilucuti, seperti dia ditelanjangi.
Gadis itu masih tinggal di ruang rapat dan tentu bersama Euni, mengurus Keshi di dalam yang kedengaran kacau. Julian mendengar beberapa barang berjatuhan dan mungkin itu adalah sebuah percobaan praktisi sihir.
“Apakah dia sungguh berhenti?" ini adalah keputusan terakhirnya sebelum membeli dupa.
“Ya, kau lihat dinding kaca itu retak? Dia sibuk dengan mereka. Ama adalah kekasihku, dan kami berkomunikasi juga melalui gmail atau panggilan nomor selulernya." Julian terkekeh, “Dia bahkan hanya tahu bermain Sonic the Hedgehog.” pada akhirnya wanita itu terdiam. Lantas memasang kacamata hitamnya dan pergi. Dia meninggalkan dupa itu di meja kasir, lalu berbalik.
“Aku tidak menuduh,” dan dia tetap masih percaya dengan kepercayaannya. Julian mengernyit, lelaki itu mengabaikannya dan tidak lama dia melihat Amani yang keluar dengan beberapa buku mantra yang telah robek.
“Ju," sebelum gadis itu berbicara, lelaki itu berjalan cepat keluar dari meja kasir. Membalik papan gantung buka menjadi tutup. “Tapi," dan tidak ada pelanggan yang membuatnya mengedarkan pandangan dengan bingung. Julian sedikit aneh belakangan ini, pria itu berjalan cepat menuju ke arahnya lalu menarik tengkuknya dan menciumnya, menggigit bibir bawah Amani dan membuatnya berdarah. Gadis tersebut tanpa sengaja membuka mulutnya karena terkejut tapi lidah pria itu berhasil lolos, ciumannya yang terasa kasar dan mendesak Amani membuat gadis tersebut memukul belakang kepala Julian dengan bukunya yang robek.
“Apa yang kau lakukan?” dia mengusap darah yang masih mengalir di bibirnya dengan linen kemeja birunya. Gadis itu menggeleng gagal paham, "Tidak, apa yang terjadi tadi?” itu yang Amani harus tanyakan.
"Arabella datang,” dan dia mengernyit di saat mendengar nama itu. Julian sangat membenci rasa ingin tahunya, dia terus cemburu dengan Keshi berpikiran yang tidak-tidak dan menjadi sangat serakah.
“Aku tidak peduli dengan urusan sekolah menengah, dan sekarang aku cukup sibuk dengan toko sialan ini. Lalu, kau tahu bukan hanya kau yang mudah cemburu. Jadi mari berhenti kekanakan?" terdengar seperti puisi di telinga Julian. Pria itu terkekeh, dia membuat gadis itu memiliki wajah merah padam. Dia membuatnya harus kesulitan mengatur napas dan gadis itu membuang buku mantra rusaknya demi memeluk Julian.
"Ju, aku mencintaimu.” terdengar sangat manis.
"Aku juga,” Julian mendekapnya sangat erat.
Mereka bilang musim gugur di Salem itu sangat indah, dan kulturnya terlihat tak kalah menyenangkan. Tidak peduli saat suara radio siang ini akan terdengar lebih ricuh, media Salem Reporter mengumpulkan pesan syukur dari warga menjelang hari raya Thanksgiving di akhir November, maupun pemberitahuan Penampilan Garcia Birthday Band di Historic Grand Theatre, Salem pada tanggal 29 November itu terdengar sangat menarik.
Amani mengakui jika dalam satu musim gugur, bisa mendapatkan begitu perubahan kontras yang baru. Kehidupan membosankannya perlahan bergerak seperti riak. Dia tidak berpikir mempunyai kekasih adalah ide baik, tapi Julian adalah ide paling baik baginya selama musim gugur tahun ini. Gadis itu merasa sangat hidup, mungkin sedikit menyebalkan saat dia mengurus toko pasokan metafisika itu. Hanya saja, setidaknya dia masih dengan kepercayaannya.
-THE END -

Manis tp knp end😭
BalasHapus