There’s where a places of the heir to a metaphysical supply store must come to terms with the existence of modern witches.
-
MINGGU yang merupakan hari penutupan HexFest, berfokus pada pendalaman materi melalui lokakarya serta ritual perpisahan yang sakral. Saat itu adalah hari yang penuh edukasi, mereka akan menemui Mystic Dylan, dengan tema What the Heka. Dimana pengantar sihir dan ilmu gaib Mesir terbilang kelas menarik bagi beberapa orang yang suka dengan sejarah kuno. Mengeksplorasi akar kuno sihir Mesir dan pengaruhnya yang abadi pada ilmu sihir modern.
Mengungkap konsep Heka kekuatan ilahi sihir yang terjalin di seluruh ciptaan dan bagaimana kekuatan itu dimanfaatkan oleh para pendeta, penyihir, dan orang-orang biasa di Mesir kuno. Dia bisa melihat para peserta festival yang nampaknya telah menyerap informasi dan mempelajari tentang dewa-dewa perkasa seperti Isis, Thoth, dan Anubis, atau penggunaan nama dan simbol yang sakral, dan bagaimana menggabungkan teknik Mesir otentik ke dalam praktik magis kontemporer. Kelas ini juga akan membahas Papirus Magis Yunani dan tulisan-tulisan Yunani-Romawi lainnya yang melestarikan mantra, semacam jampi-jampi, dan praktik spiritual Mesir, serta mengungkapkan bagaimana tradisi-tradisi tersebut telah berbaur dari waktu ke waktu.
Hanya saja gadis itu mulai menguap setelah mereka masuk pada pembahasan Malocchio and Magick, itu di pandu dengan Juliet Rose. Wanita dengan surai sepinggang hitam legamnya itu menjelaskan tentang mata jahat melalui lensa sihir rakyat Sisilia tentang apa yang dimaksud itu, apa itu termasuk bukan, atau bagaimana cara mengirimkannya, mereka juga akan mengetahui bagaimana rasanya menerimanya, dan bagaimana cara menghilangkannya. Sangat mudah untuk mengirim dan menerima mata jahat sehingga seringkali para korbannya bahkan tidak menyadarinya, tetapi kesadaran adalah langkah pertama menuju perlindungan dan pencegahan. Jika mereka yang pernah ingin menyelami misteri sihir Mediterania dan perpaduan unik praktik Yunani dan Mesir dengan pemujaan santo Katolik, maupun penghormatan leluhur, dan pengobatan herbal yang membentuk sihir rakyat Sisilia nan unik, kelas ini patut di ikuti hingga akhir.
Julian yang duduk di sampingnya telah merangkulnya, pria itu berbisik kecil untuk membangunkan Amani yang tertidur dengan wajah yang akan jatuh ke ubin marmer. Mereka juga mulai membahas tentang eksplorasi sejarah dan praktik bekerja dengan sosok Witch’s Devil dalam tradisi sihir. Beberapa orang yang terlambat menghadiri lokakarya pada akhirnya membeli beberapa keperluan di Vending Hall.
Senja itu mereka akan melakukan penutupan puncak dengan ritual yang dilakukan untuk berterima kasih kepada roh-roh atas berkah mereka selama akhir pekan, serta merayakan ikatan persahabatan dan sihir yang telah terbentuk. Ini adalah momen emosional yang menandai berakhirnya festival secara resmi. Emily yang memimpin dengan berpidato itu juga tengah bersama iringan musik dari Dragon Ritual Drummers yang membuat perasaan peserta semakin lega.
Biasanya setelah festival berakhir dengan lancar, Emily akan mengadakan acara Open House, sebagai ajang berkumpul santai terakhir sebelum peserta pulang. Julian tidak tahu dalam tiga hari rasanya semua seperti perjalanan singkat dari satu kota ke kota lainnya. Karena lokasi toko berada di Lower Decatur Street, acara ini juga menjadi momen bagi peserta untuk menikmati denyut nadi New Orleans di malam hari bersama komunitas sihir, dan pria itu menghirup udara petang yang akhirnya tiba.
Musim gugur kali ini terasa sangat manis, lagi pula beberapa hari lagi akan ada Halloween. Mereka akan melakukan rangkaian acara lain di Salem, dengan sebuah Festival of the Dead akan menjadi penutup bulan Oktober. Itu akan menjadi sangat kacau dan parade akan terlihat meriah. Bahkan biasanya stasiun televisi nasional akan menjadikan acara besar itu sebagai sorotan utama. Seakan penduduk Salem tidak benar-benar membenci sejarah penyihir.
“Ju? Apa kau berniat menikmati sisa waktu di Decatur Street?" gadis itu mendongak, dia menoleh dan menatap pria yang kini tersenyum melihat lalu-lalang orang yang menikmati festival dengan segelas bir.
Ini seperti sebuah pesta malam tahun baru, pria itu menoleh. Dia menautkan buku jarinya diantara jemari Amani lalu menariknya berjalan menyusuri trotoar blok Decatur Street, Emily mungkin sedang sibuk dengan pesta penutupannya. Julian sempat berpamitan dan wanita itu tidak masalah karena festivalnya sukses besar, dia bisa berkunjung kapanpun yang pria tersebut inginkan.
"Jika kau lelah, kau bisa pulang sesekali ke Las Vegas?” Julian mengabaikannya dan membawanya ke mobilnya, pria itu mempersilakannya masuk dan memasangkan sabuk pengaman. "Hey,” sebelum Julian keluar dari pintu penumpang, gadis itu menarik kausnya.
“Setiap Jumat, kami selalu buka lebih siang. Tutup lebih awal, maksudku kau bisa mengunjunginya." ibu Julian telah pergi, karena sebuah penyakit. Namun pria itu terlihat tidak masalah ketika akhirnya Amani bisa bicara dengan lancang padanya. Itu adalah momentum kecil yang dia inginkan.
Tapi tidak dengan pulang ke Las Vegas, setiap Jumat mereka akan mengunjungi Christian Day dan Brian Cain, jadi memilih tinggal adalah keputusan Julian saat ini. Dia tidak terlalu benar-benar ingin kembali, dan gadis itu memutar otaknya. Sebenarnya mereka punya sela waktu beberapa hari sebelum memulai persiapan ketat.
"Tidak,” Julian mengatupkan mulutnya saat gadis itu mengambil ponselnya dan menghubungi Kim. Dia mengerling, melihat Julian yang sepertinya menahan senyumnya dengan tatapan sayu tersebut. Bulu kuduknya berdiri, dia seperti akan dimangsa dan menjadi sebuah rantai paling rendah dalam piramida makanan.
Amani meminta izin pada Kim, dia akan memaksa Julian membawanya ke Las Vegas malam ini. Tidak masalah jika tubuhnya remuk namun mengunjungi ibunya adalah salah satu obat dimana rasa rindu itu akan terobati. "Kau tahu, itu sekitar empat jam dan bisa memakan waktu hingga lima sampai enam jam atau lebih tergantung lama transitnya." Julian menutup pintu penumpangnya.
Pria tersebut seketika beralih pada kursi mengemudi, dan menghidupkan mesinnya. “Kau yakin?" sekali lagi Julian meyakinkannya. “Maksudku, kita harus bermalam di Ascaya." setelah dia keluar dari parkiran. Pria tersebut sempat menghentikan laju mobilnya dan menatapnya.
“Tentu." Amani hanya seorang gadis yang keras kepala dan tidak tahu malu dengan wajah datarnya.
Julian ingin menghancurkan wajah datar itu dan membuatnya menyerah. Pria itu terkekeh, lalu mengangguk. Perjalanan mereka akan sangat mendebarkan, Amani bertaruh banyak hal dengan keringat dingin di tangannya. Dia mungkin akan mabuk darat karena mencium aroma tubuh Julian yang memporak-porandakan jiwanya.
-
Dari gerbang utama New Orleans, Louisiana atau Bandara Internasional Louis Armstrong kerap kali disebut dengan MSY tersebut untuk membawa rute perjalanan ke Las Vegas, mendarat di Bandara Internasional Harry Reid memakan kurang lebih empat jam. Memilih penerbangan non-stop memang pilihan terakhir Julian karena pria tersebut hanya tidak ingin bertele-tele. Pada akhirnya mereka tiba di Ascaya.
Sebuah tempat atau komunitas hunian mewah tertutup guard-gated, yang eksklusif. Terletak di pegunungan McCullough Range di Henderson, Nevada, sekitar 14 kilometer di selatan Las Vegas Strip. Julian menyukai tempat tersebut dari dia mulai terobsesi pada sesuatu yang pribadi, atau karena juga dikenal dengan desain arsitektur gurun kontemporer yang futuristik dan lokasinya yang juga tinggi mencapai 900 meter, sehingga menawarkan pemandangan panorama seluruh lembah Las Vegas. Pekerjaannya adalah tambang dolar, dan dia tidak hanya meneliti hal remahan kue jahe.
Pria itu menyukai harmonisasi dengan alam, dan menyukai ketika arsitekturnya dirancang untuk terlihat seolah-olah tumbuh dari bebatuan pegunungan McCullough. Penggunaan material alami seperti batu pasir, tanah liat, dan kayu yang sangat dominan. Dengan garis atap yang datar maupun miring tajam dan lebar untuk memberikan bayangan maksimal dari terik matahari Nevada.
Dengan gerbang utama yang dijaga ketat, tidak ada orang luar yang bisa masuk tanpa izin. Tamu harus terdaftar di sistem atau dikonfirmasi langsung oleh penghuni melalui telepon maupun aplikasi khusus sebelum gerbang dibuka. Julian setuju ketika rancangan huniannya menjadi pemilihan jalur terpisah untuk penghuni dan tamunya, dengan menggunakan sensor otomatis dan jalur untuk tamu atau kontraktor guna pemeriksaan identitas.
Dia juga nyaman saat keputusan final untuk kendaraan penghuni yang dilengkapi dengan stiker RFID atau sistem pengenal plat nomor otomatis sehingga mereka bisa masuk tanpa harus berhenti lama, sementara sistem selalu mencatat log setiap kendaraan yang lewat. Amani juga melihat saat mereka masuk jika seluruh area gerbang dipantau oleh kamera pengintai resolusi tinggi dengan kemampuan night vision dan pendeteksi wajah.
Dia tidak bisa bergerak sendiri saat melihat sedikit gambaran masuknya, bahkan ketika gadis itu memasuki garasi dengan delapan mobil. Belum termasuk BMW M8 Gran Coupe Competition milik Julian, itu cukup membuatnya tidak bisa memikirkan apapun kecuali jika dia sadar Julian adalah pria kaya tujuh turunan.
Walau kali ini adalah Oktober, dan musim gugur namun pria itu tetap membiarkan garasinya yang dilengkapi Air Conditioning penuh untuk menjaga suhu koleksi mobil dari panas ekstrem gurun tetap menyala. Bagian paling mencengangkan lagi adalah, saat gadis itu melihat dinding kaca yang menghadap ke ruang tamu atau pintu masuk utama, sehingga mobil eksotis bisa terlihat dari dalam rumah sepanjang waktu dan itu adalah bagaimana Julian terlihat berbeda dengan Ilmuwan Sains yang dia kenal selama ini.
Dia juga merancang garasinya dengan langit-langit yang tinggi mencapai 4,5 meter-an yang memungkinkan penggunaan elevator mobil untuk menumpuk kendaraan secara vertikal. Julian menoleh, dia menatap Amani yang masih melihat sekitar. Itu pasti bagaimana huniannya memiliki pagar perimeter, agar seluruh batas komunitas dikelilingi oleh pagar keamanan yang dilengkapi dengan sensor gerak atau getaran untuk mencegah penyusup masuk dari area perbukitan.
Gadis itu sadar, dan membuntut ketika Julian berniat masuk ke dalam rumahnya. Pria itu sedang membuka kunci dengan sistem penggunaan sidik jari atau kode akses digital, dilanjutkan dengan rangkap pengenalan wajah untuk masuk. Karena lokasinya yang miring, rumahnya dibangun dengan struktur bertingkat yang memaksimalkan pemandangan 360 derajat ke Las Vegas Strip.
Pria itu memperlihatkannya ruangan tengah yang sangat luas dengan penggunaan jendela setinggi langit-langit tanpa bingkai. Dindingnya bisa digeser sepenuhnya untuk menghilangkan batas antara interior dan eksterior. Dia mengusung gaya furnitur yang cenderung bergaya Italia modern dengan profil rendah agar tidak menghalangi pandangan ke luar jendela. Pria itu melempar ranselnya ke atas sofa, membuat gadis itu menunduk tanpa sengaja ke lantai dan dia pikir itu biasanya menggunakan batu alam seperti travertine atau marmer, mungkin saja kayu keras impor dan dia juga beranggapan ketika melihat dinding interiornya mungkin diberi aksen panel kayu atau batu kustom.
Dengan menggunakan sistem pencahayaan pintar yang bisa diatur suasananya melalui ponsel, serta lampu gantung artistik yang berfungsi sebagai titik fokus ruangan. Pria itu berjalan ke dapur, dan itu ruangan yang terlihat sangat dekat dengan ruang tengah. Amani mendekat untuk melihat dapur yang dilengkapi dengan island marmer besar, peralatan dari merek kelas atas seperti Wolf, Sub-Zero, dan Miele, serta kabinet tanpa pegangan untuk kesan bersih membuatnya benar-benar takjub.
Ini mungkin dini hari yang sangat dingin, sebentar lagi mentari akan timbul. Namun mereka terlihat masih canggung, dan Julian ingin memecahkan suasana mengerikan ini. Dia hampir tidak pernah pulang ke Ascaya karena tinggal sendirian dan ayahnya memiliki huniannya sendiri dengan istrinya.
Itu mengerikan ketika hanya dia yang harus pulang dan merindukan sosok ibunya. Ayahnya tak ingin larut dalam rasa pedih, Julian tidak mempermasalahkannya hanya saja hubungan mereka sedikit renggang.
“Ingin menonton film?" tawarnya, itu mungkin hanya salah satu basa-basinya. Amani hanya berpikir mungkin saja dia memiliki bioskop pribadi yang kedap suara, atau gudang penyimpanan anggur dengan pengatur suhu, dan ruang permainan. Melihat adanya kolam renang yang seolah menyatu dengan cakrawala Las Vegas seperti menjadi tolak ukur di hunian sekitarnya. "Setidaknya, pilih kamarmu. Maksudku beberapa jam lagi kita akan mengunjungi ibuku.” Julian membuat dua cangkir coklat panas.
Lalu memberikan cangkir pertamanya pada Amani, "Pilih sesukamu, kecuali di dekat dapur. Karena itu kamarku." dia tidak ingin membuat gadis itu melihat peralatan laboratoriumnya yang mungkin berada di seluruh sudut kamarnya dan sangat berantakan dengan sisa ramuan yang belum benar-benar dia buang beberapa minggu lampau. Itu akan sangat bau dan kotor, dan dia tidak ingin terlihat mengerikan.
"Besok mampir ke toko bunga, aku ingin membeli gladiol.” gadis itu mengingatkannya.
Amani berpikir kasar kadang kala, dia bisa membayangkan betapa mewahnya hidup Julian dan mengadakan pesta perayaan ketika sedang berhasil menguji hal asing untuk masuk dalam pengetahuan lainnya. Dengan para rekan kerja, dan wanitanya yang dia ajak bersama untuk menghabiskan malam bersama hingga fajar menjemput.
Pria itu menegak coklat panasnya, dan dia meletakkan cangkirnya kembali pada meja pantry. Iris coklat benerang tersebut memperhatikan kerutan di dahi Amani dan dia melihat coklat panas itu tidak bergerak sama sekali.
“Aku terakhir berkunjung ke hunianku bersama Carlo sekitar seminggu lalu. Lalu tinggal di toko pasokan metafisika seharian penuh.” dia sadar untuk menjelaskannya dan itu membuat Amani hanya menatapnya dan membawa coklat panasnya ke kamar acak yang dia pilih.
Julian tersenyum, dia menangkup wajahnya lalu menggeleng. Amani terlalu manis, dia tidak bisa menggodanya terlalu lama dan status hubungan mereka sangat kacau. Tidak sedalam itu untuk benar-benar tahu dalam ranah kehidupan privasi.
▪▪▪

i got melted,
BalasHapus