Langsung ke konten utama

Chapter 8 - Bareback

There’s where a places of the heir to a metaphysical supply store must come to terms with the existence of modern witches.


-

UNTUK kali pertamanya toko pasokan metafisika Hex Old World Witchery, tutup seharian penuh dengan dalih pembenahan barang dagang. Setelah Festival of the Dead dan para peserta dengan lancangnya masuk ke toko untuk melakukan pemesanan secara langsung dengan begitu serakah. Mereka memporak-porandakan isi rak dari penjuru ruangan. Toko mereka memiliki banyak stok dan sekarang terlihat sedikit lebih kosong dan sangat berantakan. Beberapa rak juga nampak rusak, tentunya itu membuat Kim harus merasakan kerugian. 

Dengan alunan berita pagi ini bersama saluran Boston Public Radio atau, GBH 89.7 FM. Hanya karena Carlo pria Boston dan mereka masih tinggal di daerah metropolitan Greater Boston, penting waktu pagi mereka dipenuhi dengan surat kabar harian. Tidak mengapa terdapat televisi di dekat pengeras suara, pria itu suka bagaimana toko ini masih mengambil alih fungsi radio. 

Tetap pada ranah klasik yang Kim pegang teguh, GBH 89.7 FM menyiarkan diskusi mendalam secara langsung dari studio mereka di Boston Public Library. Bersama Jim Braude dan Margery Eagan, membahas tentang kesehatan masyarakat mengenai laporan krisis biaya penitipan anak dan penutupan program Head Start di wilayah Massachusetts. Pria itu terlihat suka dengan berita-berita untuk pelayanan masyarakat juga. Dia tidak benar-benar mengingat dimana meletakkan pena bulu hijau yang dijanjikan setelah festival. 

Stok mereka sungguhan habis, dan dia tidak tahu bagaimana Kaya yang seorang kutu buku paling skeptis itu akan membuat papan reklame untuk mengatakan jika toko mereka gulung tikar. Akhirnya gadis itu yang harus mengambil kunci mobil Carlo dan mengambil pesanan beberapa waktu tersebut. Ketika gadis itu meletakkan kardus besar di dekat meja kasir, kali ini sesi tanya jawab bersama Senator Ed Markey dan Gubernur Massachusetts mengenai kebijakan negara bagian yang mulai memanas. 

Carlo membutuhkan kafein, dia menyadari jika kunci mobilnya hilang dan melihat Amani sedang membongkar pesanannya. Pria itu mendekat, dia membuat gadis tersebut mengabaikannya karena merasa ada barang pesanannya yang belum tiba dan ini sangat menyebalkan karena beberapa pelanggan jelas sangat meributkan bagaimana Salem Witches' Lust Spell Cord kosong. Itu hanya untuk para pasangan pemburu nafsu. 

Salah satunya adalah wanita berkepala dua akhir yang selalu datang sendiri. Sejujurnya dia tidak terlalu memperdulikannya dan Amani membencinya sampai ke akar-akarnya. Dia selalu ingat wanita itu mencari benda tersebut setelah memasangnya di tas pribadinya. Seperti sebuah suvenir, benda seperti ini digunakan dengan cara digantung atau disimpan di tempat pribadi untuk memancarkan niat pemakainya. Tapi tidak dengan wanita itu yang menganggapnya seperti hiasan semata. 

“Kau tidak harus pusing," Carlo juga salah satu saksi mata dimana Amani hampir tidak profesional dan hanya mengatakan jumlah prabayar. 

“Ya? Tapi, oh sialan." dia pernah kehabisan barang dan wanita itu membeli banyak hal di tokonya yang sangat bergairah. Di belakangnya ada dua pria asing dan akhirnya masuk ke dalam mobilnya bersamaan. 

Gadis itu mengatup dia tidak ingin membahasnya dan beranjak menuju rak jimat dan tali serta beberapa suvenir, mungkin karena mereka berada di rak yang serupa. Julian keluar dari ruangan bawah tanah, dia masih menggantungkan safety goggles-nya di antara lehernya. Jubah laboratoriumnya juga masih lengkap, dan dia membawa dua botol kaca untuk dibawa ke hadapan Kim yang berada di ruangan rapat dengan beberapa praktisi sihir lainnya. 

Itu adalah penguraian baru ramuan yang Kim minta padanya. Dia hanya tidak terlalu peduli dengan urusan mantra setelahnya, namun pria itu melihat toko yang sangat kacau dengan beberapa barang dibiarkan berserakan di ubin kayu dengan pernis tersebut. 

“Dia marah?" dan Julian berhenti, Carlo mengatup sembari mengedikkan bahunya karena gadis itu selalu terlihat marah baginya. 

"Dia selalu terlihat sama,” pria itu menggerutu pelan, "Tapi, dia punya binar mata jika bersamamu. Maksudku, bahkan setelah pena bulu hijau ada sekalipun, wajahnya sama saja!" tuturnya setengah menggerang emosi. 

“Tapi kau tidak menemukan tali jimat itu." Julian terkekeh sembari menggeleng. 

"Tidak bung, kau tahu masalahnya pada pelanggannya. Wanita itu sangat, menyebalkan.” Julian tidak pernah melihatnya. Dia hanya mengangguk dan kembali pergi menuju ruangan rapat. 

-

Setelah tutup seharian penuh dan para pelanggan yang datang secara massal membuat kericuhan sedikit kacau. Amani yang seorang gadis penjaga mesin kasir pecinta dolar dan matanya akan berubah menjadi satu picis koin tersebut tidak mengira jika dia harus menjadi sangat fokus pada dua hal pagi itu. Selain mengurus pelanggan dan menunjukkan beberapa barang, dia juga mengurus pemesanan daring yang melalui gmail toko pasokan metafisika. 

Ibunya sedang pergi ke beberapa kota seberang untuk memastikan barang-barang baru yang akan menempati gudang persediaan mereka. Lalu Julian sedang keluar dengan Carlo ke perbatasan Salem untuk mengambil barang pesanan mereka. Dia melakukannya sendirian, dan Amani masih menyadari keberadaan seseorang di bagian jimat. 

Dia melihat Kaya yang mengambil pena bulu hijau dan juga Witch Power Talisman in Antique Brass with Glass Cabochon, sebuah jimat yang dirancang untuk dikenakan sebagai perhiasan azimat perlindungan atau pemberdayaan. Itu digunakan untuk mengaktifkan dan meningkatkan energi magis pribadi. Sebuah kuningan antik yang terlihat cantik dimata para penyihir pemula. 

Gadis itu benar-benar harus mengurus lampiran terakhir sebelum mengirimnya. Sedangkan Kaya nampaknya tidak terlalu kasar seperti terakhir kalinya dan menunggu dengan sabar. Itu membuat Amani merasa sangat lega, dia merasa jika hubungan antara pelanggan dan pedagang terasa lebih positif dibanding sebelumnya. Setelah dia usai, dan mengambil jimat itu untuk melihat biayanya gadis itu mengangguk. 

“12 dolar, 98 sen, kami hanya menerima pembayaran tunai.” dan Kaya dengan rajin menghitung uang recehnya. Dia sengaja memberi uang tanpa pengembalian agar mempermudah transaksi. 

Namun tidak lama suara lonceng pintu masuk terdengar menggema, membuat kedua orang tersebut refleks menoleh. Carlo datang dengan penuh semangat dan dia meletakkan satu kardus berisikan beberapa buku mantra di meja kasir. Tidak lama Julian menyusul, pria itu mencoba membuka segelnya dan mengambil sebuah plakat, mereka biasanya menggantungnya di rumah atau di dekat altar sebagai simbol kekuatan dan energi matahari. 

“Kau menemukannya?" gadis itu sedikit antusias, beberapa hari lalu sebelum menuju puncak Festival of the Dead beberapa pelanggan mencari plakat tersebut karena sulit ditemukan. 

"Tentu, kami harus adu otot.” dan Carlo tertawa renyah dengan pernyataan Julian. 

"Kupikir, Carlo yang mendapatkannya.” gadis itu sedikit menarik sudut bibirnya dan Kaya melepas kacamatanya. Lalu membersihkannya dengan kausnya, sebelum mengenakannya lagi. Ini adalah anomali baginya. 

Mereka terlihat lain dan sepertinya perasaannya selama ini benar, jika Amani telah menjadi sosok yang tidak terlalu kaku. Namun semua itu mungkin hanya sementara setelah pelanggan baru datang sepersekian detik setelah perasaan tentram yang Kaya rasakan melalang-buana timbul. Wanita dengan surai hitam legam ikal sepinggang dan dibiarkan terurai, kulit putih pucatnya yang halus seperti sutra. Senyumannya yang manis bak kembang gula. 

Iris coklat gelap yang bulat dan sangat ideal dengan ras Asia Tenggara dilihat dengan garis wajah oval yang sangat kecil. Sampai rasanya tanpa sadar Kaya menyentuh jimatnya dan membuat Amani mengernyit. “Kaya, kendalikan dirimu.” dan itu terdengar halus namun tegas. Sehingga Julian merasa iri dengan perhatian kekasihnya pada salah satu pelanggan tetap mereka. 

"Apa Salem Witches' Lust Spell Cord pesananku sudah tiba?” wanita itu menggunakan setelan kasual dengan cardigan coklat susu dan rok plisket senada namun lebih gelap. Dia memakai sepatu heels hitam yang membuatnya terlihat klasik dengan tas Louis Vuitton Neverfull yang terlihat baru. Dia sering melihatnya namun mungkin wanita itu pikir cukup hebat. 

“Maaf,” dan wanita itu mendekat ke meja kasir. Berdiri tepat di samping Julian dan mengabaikan bagaimana Carlo harus merapat ke sisi Kaya dengan tatapan keheranan. Amani melihat wanita itu sempat mengerling ke arah Julian, walau prianya jelas mengabaikannya. 

“Tidak. Aku tidak butuh maaf, kau tahu apa kegunaannya?” dan dia tahu lebih dari orang awam seperti wanita itu. “Panggil aku Barnes Woods, dan beri pesanan lainnya yang memiliki efek lebih tinggi.” dan dia mengalungkan tangannya yang hanya membuat Amani mengerutkan dahinya. 

“Aku suka toko ini," dia tersenyum dan Amani tidak tahu kapan wanita itu memiliki sikap ramah-tamah yang tinggi. 

Dia bahkan membiarkan lengannya menyentuh lengan Julian dan itu membuat iris coklat tersebut menatap datar ke arahnya. Julian sempat menoleh, dan dia hanya mengabaikannya setelah memilih pergi untuk menyimpan beberapa barang yang telah mereka periksa. 

“Aku butuh plakat itu." kedengaran sedikit berteriak hingga Julian ingat jika plakatnya baru datang. Pria itu berbalik dan mengangguk, melempar tatapan pada wanita tersebut. Ada kamus dimana Arabella Barnes Woods harus mendapatkan sesuatu yang mencuri perhatiannya dalam sekali lihat. Seorang pria dengan setelan bermerek dan sangat cocok dengan kulit eksotis sensualnya. 

Tidak peduli berapa banyak dia membual dan berusaha mencari perhatian, gadis itu harus segera mengurus nota prabayar kecuali dia ingin melihat prianya di goda. Carlo berbisik pada Kaya jika wanita itu adalah orang yang sangat dibenci Amani dan sangat ingin dia abaikan tapi mungkin kali ini tidak. Ketika suara lantunan melodi lagu rakyat tradisional sedari wilayah Appalachia, Amerika Serikat, yang telah diwariskan turun-temurun menggema. Milik Lloyd Chandler, dan mendapat versi Jen Titus yang sekarang terputar. Menandakan jika surat kabar harian pagi ini usai sudah. 

Suasana semakin mengerikan, Kaya tahu lagu itu hanya sebuah lagu rakyat versi baru. Tetap saja terasa mencekam dan dia pikir akan lebih baik jika Arabella segera pergi. 

“36.00 dolar, kami hanya menerima uang tunai.” gadis itu menahan diri, dan dia sengaja membutuhkan pengembalian banyak. 

“Maaf, boleh berbagi nomor ponsel?" Arabella mengabaikan Amani yang telah mengalungkan pengembaliannya. Julian terkekeh, dia mengambilnya dan gadis itu masih mencengkram dolar itu dengan wajah datarnya. 

"Pengembalianmu?” dan wanita itu menoleh, “Lalu, maaf. Aku tidak tertarik dengan berbagi nomor ponsel.” hanya itu setelah Julian memilih pergi. 

Wanita itu terkekeh menyimpan kasar pengembaliannya dan pergi begitu saja. Dia seperti sebuah angin ribut, Amani menarik napas dan berjongkok dengan teriakan yang terdengar hingga Carlo dan Kaya saling melemparkan tatapan. Mereka baru saja mendapatkan hal baru lainnya. 

Walau mendekap teriakan dengan kedua tangannya, itu bisa membuat orang yang hanya beberapa meter mendengarnya. Tak terkecuali Julian yang hanya tersenyum. Dia bisa sedikit menggoda Amani yang selalu terlihat jika hubungan mereka sama saja seperti sebelum mengalami kemajuan pesat. Julian ingin lebih serakah, dan dia bisa bertingkah lebih kasar dibanding bayangannya sendiri selama ini. Itu seperti saat dia harus terlihat seperti bagaimana penunggang kuda tanpa penggunaan pelana. 

▪▪▪



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Friday Call'in - Attention

A first book by Strawth Berries , with the title Friday Call'in . © 2026.  - Daftar Pustaka;  site; Hex: Old World Witchery/hexwitch.com.  site; Wikipedia/id.wikipedia.org. site; FLASHCORE/flashcore.co.id. Jonathan Black, © 2007, The Secret History of the World, written in English by Mark Booth, Published by Quercus Publishing in the UK.  site; Yelp/m.yelp.com site; June Andrea, blogger, © 2026, Next Smart Ship, Everything You Should Know About Manufacturer Vs Supplier, nextsmartship.com.  site; Alodokter/alodokter.com.  site; Tod Perry, blogger, © 2025, Fall is the best-smelling season. Naturalists reveal why it’s such a delight for the sense, upworthy.com.  site; Charu Perfumery House, blog, © 2025, The Science Behind Why Some Incense Sticks Don’t Smell Good, charustore.com.  site; Mary Shannon, blog of Adams Media Corporation, © 2010, The Witch's Book of Love: Hundreds of Magical Ways to Attract and Strengthen Love, alinono.az.com.  site; ...

Chapter 9 - Misfortune

There’s where a places of the heir to a metaphysical supply store must come to terms with the existence of modern witches. - SAAT retina coklat gelap gadis itu membuat pupilnya melebar, dia merunduk di antara batu ampar yang berwarna jingga memenuhi Essex Street dimana para turis masih merasakan sensasi jejak Halloween sebulan lalu. Akhir November sangat dingin, dan Jumat pagi ini juga dia baru kembali dari pemakaman Greenlawn Cemetery. Tersangkut di jalanan setapak dengan seekor kucing hitam kecil yang memburu tikus yang tidak kalah kecil.   Membuatnya mengamati secara dekat, dan tikus itu terlihat sedikit berisi dengan perut besarnya. Dia mungkin memakan banyak malam ini, dan mungkin karena beberapa kali kucing takut dengan tikus. Mereka seperti hanya membutuhkan teman bermain namun tikus kali ini terlihat emosional dimata Amani. Dia mulai merasakan rintik hujan menerpa kepalanya dan itu membuat mereka pergi ke gang sempit di dekat ruko-ruko.  Hela napasnya terdengar sayup...

Chapter 10 - Exhaustive

There’s where a places of the heir to a metaphysical supply store must come to terms with the existence of modern witches. - JENDELA dengan gorden putih berenda itu tertiup angin segar embun esok hari, bohlam jingga kamarnya telah padam saat itu. Haya sorot kecil dari lampu jalanan nampaknya remang-remang. Dia masih mencium aroma musim gugur, tapi beberapa waktu lalu aroma itu diselimuti dengan wangi herbal yang maskulin muncul dari sage, juniper berries , dan geranium. Itu membuatnya merasakan kantuk semakin dalam, dia tidak ingin bangun dan teringat kejadian kemarin.  Julian selalu meninggalkan kesan hangat dan elegan dari amberwood , tonka bean , atau cedar, dan vetiver , maupun olibanum . Tangan yang sesekali mengusap ubun kepalanya pada akhirnya membuat Amani membuka kelopak matanya. Dia menatap pria bersurai afro itu dengan lelah, sedari awal Julian ingin Amani yang membicarakan seluruh bebannya dengan tuntas.  Ada percikan kecil ketika rasa yang lama telah sirna hidup ...